KUDUS, ZONANEWS.ID – Santer dikabarkan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis pertalite rencananya akan dinaikkan kembali. Hal ini menyusul dari adanya persoalan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tak mampu lagi menahan beban subsidi yang mencapai Rp 502 triliun.
Wacana kenaikan harga BBM jenis pertalite pun mulai dikeluhkan masyarakat. Diketahui, saat ini harga BBM subdisi jenis pertalite dijual seharga Rp 7.650. Sementara untuk wacana kenaikan harga belum diketahui secara pasti berapa nominalnya.
Menanggapi hal tersebut, salah seorang pengangkut jasa roda empat sekaligus penjual BBM ecerah, Kamal mengaku kebijakan itu tidak tepat sasaran. Menurutnya, wacana menaikkan harga BBM bakal memberatkan masyarakat seperti dirinya.
“Dengan adanya wacana kenaikan harga, tentu saja saya tidak setuju. Karena masyarakat kecil seperti saya ini menjerit,” kata Kamal saat ditemui usai mengangkut barang di Besito, 19 Agustus 2022.
Kamal sendiri sudah menjadi jasa jasa angkut sudah sejak tahun 2002, di sela-sela menjadi jasa angkut, ia juga berjualan BBM secara eceran. Ia juga mengeluh, berdasarkan pengalaman setiap BBM naik, Kamal hampir tidak mendapatkan keuntungan.
“Jadi, setiap ada kenaikan harga BBM kadang-kadang untungnya malah habis hanya buat makan. Padahal masih ada anak dan juga mikir yang lain-lain,” keluhnya.
Dengan demikian Kamal yang merupakan warga Karangsambung, Desa Bae, Kudus, Jawa Tengah berharap supaya wacana terkait kenaikan harga BBM tidak direalisasikan.
“Ya terus terang, harapannya supaya BBM tidak naik,” pungkas Kamal singkat.
Di sisi lain, Dosen Program Studi Management Logistik dari Politeknik Abdi Luhur (Polteku), Iqbal menjelaskan bahwa memang keputusan untuk kenaikan BBM adalah keputusan yang sulit bagi pemerintah.
Menurut Iqbal, kondisi saat ini telah menunjukkan krisis ekonomi yang mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan karena adanya krisis global sebagai akibat dari krisis kesehatan pandemi covid-19 serta efek dari perang Rusia-Ukraina. Di mana kemudian menjadi krisis ekonomi dan pangan serta krisis energi.
“Kita juga tahu, bahwa harga BBM terutama di luar negeri itu sudah sangat tinggi sekali, seperti di German kemarin, harganya melonjak sangat tinggi sekali, sampai kurang lebih Rp 50 ribu per liter kalau dalam rupiah,” terangnya saat dihubungi, pada 19 Agustus 2022.
Sedangkan di Indonesia, lanjut Iqbal, BBM seperti Pertalite masih bisa dinikmati dengan harga Rp 7.650. Ini tentunya memperlihatkan adanya gap atau kesenjangan yang sangat jauh.
“Rata-rata harga BBM yang dibeli oleh Indonesia itu masih dikisaran diatas 100 USD padahal asumsi di APBN kita, itu sekitar 60 USD. Tekornya banyak sekali ini,” imbuhnya.
