“Kita tawarkan (lahan eks-Matahari) investor kemana-mana, kalau lokasinya bersih mereka akan tertarik, tapi kalau kumuh nanti mereka balik kanan,” ujar Hartopo.
Bahkan Hartopo juga bercerita, pendekatan dengan investor lokal di Kudus seperti PT Djarum, PT Sukun Wartono Indonesia, PT Nojorono, PT Pura, dan lainnya, semuanya belum ada yang tertarik berinvestasi di lahan eks-Matahari.
Maka dari itu, Hartopo merasa sangat senang ada investor yang ikut andil menertibkan pedagang sayur di trotoar Pasar Bitingan.
“Saya hanya menjalankan tugas saya, amanah dari masyarakat untuk menata kota agar lebih indah. Karena kalau Kudus jadi kota yang baik, bersihm dan indah, yang dapat sanjunfan pasti orang Kudus,” jelas Hartopo dengan senyum sumringah.
Sementara itu, Manajemen PT Prakarsa Graha Pangan Chaulanna Rindho Wartono menjelaskan, Pasar Saerah berdiri di atas lahan seluas 1,2 hektar. Di mana memiliki 108 kios dengan 253 lapak di dalamnya.
Pasar Saerah ini diharapkannya bisa mengakomodir seluruh pedagang sayur dan buah di Kudus.
Di awal pembukaan, Pasar Saerah akan digratiskan untuk para pedagang yang menempati. Untuk selanjutnya dievaluasi terkait bagaimana ketertarikan para pedagang menempati Pasar Saerah.
“Sistemnya ini nanti kita sewa, tapi awal ini kita gratiskan dulu sewa dan restribusinya. Jadi nanti kami bisa mengira bagaimana reaksi pedagang pasar, seperti restribusi akan kita bicarakan bareng pedagang lewat paguyuban,” jelas Alan.
Sejauh ini, Alan mengatakan bahwa antusias pedagang yang ingin menempati Pasar saerah cukup tinggi. Ratusan kios yang disediakan hampir semuanya diminati pedagang.***
