Hadapi Penurunan Produksi, Industri Rokok di Kudus Berkomitmen Tidak Lakukan PHK

Ketua Umum PPRK, M. Dodiek Tas'an Wartono (kanan) bersama Bupati Kudus, Sam'ani Intakoris usai menghadiri kunjungan kerja Gubernur Jateng ke Kudus pada Jumat, 19 September 2025. (ZONANEWS.ID)

KUDUS, ZONANEWS.ID — Industri rokok legal di Kabupaten Kudus yang tergabung dalam Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK) berkomitmen tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) para karyawannya di tengah kondisi perusahaan yang mengalami penurunan seperti saat ini.

Ketua Umum PPRK, M. Dodiek Tas’an Wartono mengatakan, tahun ini produksi Sigaret Kretek Mesin (SKM) di sejumlah pabrik rokok golongan I di Kudus mengalami penurunan lumayan.

Meski demikian, mereka yang tergabung dalam PPRK berupaya tidak melakukan PHK karyawan, karena dampak dari keputusan itu akan sangat banyak.

Bacaan Lainnya

Seperti angka pengangguran meningkat, biaya hidup keluarga yang tidak tercukupi, dan lainnya.

“Insyaallah anggota kami berkomitmen tidak sampai ada PHK, karena efek dominonya akan lebih parah,” kata Dodiek kepada awak usai menghadiri kunjungan kerja Gubernur Jateng ke kantor PPRK pada Jumat, 19 September 2025.

Ia melanjutkan, banyak strategi yang dilakukan masing-masing perusahaan agar tidak melakukan PHK. Hingga sampai saat ini, perusahaan-perusahaan besar di Kudus masih mempertahankan para karyawannya.

“Alhamdulillah sampai hari ini belum ada PHK,” ucap Dodiek.

Untuk itu, mewakili para pemilik perusahaan di Kudus, ia berharap pemerintah pusat serius memberantas peredaran rokok ilegal tanpa pita cukai.

Sebab, adanya rokok ilegal sangat mempengaruhi penjualan rokok-rokok legal dengan pita cukai. Gap harga antara rokok ilegal dan legal, membuat sebagian konsumen beralih membeli rokok ilegal karena harganya yang jauh lebih murah daripada rokok legal.

Agar konsumen rokok legal tetap banyak, diharapkan tidak ada lagi kenaikan tarif cukai rokok. Ketika tarif cukai rokok naik, harga rokok legal ikut naik. Akhirnya rokok ilegal diuntungan, banyak konsumen memilih rokok tanpa pita cukai karena harganya lebih murah.

“Mudah-mudahan apa yang ditargetkan pemerintah (memberantas rokok ilegal) bisa kita capai,” ujarnya.