Dispertan Kudus pun meminta peternak mulai memikirkan sumber pakan pengganti. Salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan adalah limbah hasil pertanian.
Bahan tersebut dapat diolah menjadi pakan kering maupun fermentasi bahan hijauan (silase). Selain menjadi solusi ketika hijauan segar berkurang, metode ini memungkinkan peternak memiliki cadangan pakan yang dapat disimpan dan digunakan saat dibutuhkan.
“Di lapangan hijauan pakan sudah mulai menurun. Kami masih menyarankan alternatif pakan lain. Misalnya untuk kambing, bisa membuat pakan kering dari limbah-limbah pertanian, kemudian silase yang bisa dimanfaatkan,” jelas Arin.
Menurut Arin, persiapan pakan alternatif sebaiknya dilakukan sebelum peternak mengalami kesulitan memperoleh hijauan. Bahan pertanian yang tersedia pada musim sebelumnya dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi stok pakan untuk menghadapi musim kering.
Dispertan Kudus sebelumnya juga telah memberikan pelatihan pembuatan pakan alternatif sekitar April-Mei. Pelatihan tersebut menyasar peternak ruminansia yang memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap hijauan.
“Kalau alternatif pembuatan pakan, kemarin sasarannya ke peternak ruminansia. Ketika hijauan pakan tidak banyak, bisa diganti dengan pakan dari limbah pertanian yang dibuat pada musim sebelumnya,” terangnya.
Arin menilai kemampuan peternak dalam mengolah dan menyimpan pakan alternatif menjadi bagian penting dalam menghadapi musim kemarau.
Dengan adanya cadangan, kebutuhan pakan ternak tetap dapat dipenuhi meski ketersediaan rumput di lapangan menurun.
Dispertan Kudus berharap peternak dapat melakukan langkah antisipasi sejak dini sehingga kondisi kesehatan dan produktivitas ternak tetap terjaga sepanjang musim kemarau.
“Yang paling penting peternak bisa menyiapkan pakan alternatif sebelum hijauan semakin berkurang, sehingga kebutuhan ternak tetap terpenuhi,” pungkasnya.***
