“Intinya warga ingin ada tanggung jawab dari pengusaha kandang. Kalau lalatnya jumlahnya tidak wajar dan berlangsung berhari-hari, kandangnya harus ada penanganan,” katanya.
Sementara itu, Kepala SD 3 Bulungcangkring, Jamari membenarkan bahwa lalat menjadi salah satu persoalan yang dirasakan di lingkungan sekolah. Meski demikian, ia menyebut intensitas kemunculan lalat tidak selalu sama setiap hari.
“Kalau pas panen (kandang), biasanya lalatnya banyak sekali sampai ke sekolah,” kata Jamari.
Jamari berharap pengelolaan kandang ayam dapat diperbaiki agar kemunculan lalat dalam jumlah besar tidak kembali terjadi setelah proses panen.
Menurutnya, penyemprotan maupun pemasangan perangkap lalat hanya bersifat sementara, sehingga diperlukan langkah pencegahan dari sumbernya.
“Kalau bisa SOP-nya diperbaiki. Setelah panen jangan sampai lalatnya malah banyak keluar dari kandang dan masuk ke lingkungan warga maupun sekolah,” jelasnya. ***
