Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus menyebut bahwa dari 251 kasus DBD yang tercatat sejak awal tahun 2025 hingga saat ini, paling banyak menjangkit anak-anak atau sebanyak 47 persen.
“Sejak 2022 hingga 2024, kasus memang mengalami penurunan, tapi kasus kematian sempat menjadi perhatian. Tahun ini, sampai minggu ke-18, tercatat 251 kasus tanpa kematian. Semoga tidak bertambah,” ujar Andini.
Untuk menekan kasus DBD di lingkungan sekolah, lanjut dr. Andini, DKK telah menggalakkan program Sekolah Bebas Nyamuk (SBN). Sehingga, lingkungan sekolah yang menjadi tempat kedua bagi anak-anak, bisa terjaga dari nyamuk aedes aegypti.
Lebih lanjut, Kolaborasi lintas program, lintas instansi, dan organisasi profesi seperti PPNI serta apoteker juga diharapkan terlibat langsung ke masyarakat untuk edukasi dan pencegahan DBD.
dr. Andini menyampaikan, tiap-tiap lintas sektor tersebut nantinya akan bekerja sesuai dengan tupoksinya. Kemudian seiring berjalannya waktu nantinya akan dilakukan evaluasi.
“Ke depan sambil kami evaluasi terus penanganan DBD ini. Indikator-indikator penanganannya akan terus dievaluasi,” imbuhnya. ***
