Cokro yang tersisa hanya bisa menyesali perbuatannya, menangis di depan dua peti mati, diterangi sorot lampu biru dan merah yang perlahan meredup, mengakhiri pementasan berdurasi dua jam itu.
Sutradara pentas, Devi Misbahus Sholihah, yang juga dikenal dengan nama panggung Meri, menyampaikan bahwa pentas ini merupakan bentuk keresahan atas kondisi sosial masa kini.
Ia menilai bahwa kejujuran kini telah terkikis oleh kepentingan dan pencitraan.
“Moral semakin tergerus, relasi manusia dibangun di atas kepalsuan dan kepentingan pribadi,” ujarnya tegas.
Menurut Meri, fenomena ini tak lepas dari kebiasaan masyarakat yang terbiasa memakai “topeng” sosial, demi menjaga status dan pandangan orang lain.
Lewat Dagdigdug, ia ingin menyadarkan penonton bahwa kejujuran adalah hal yang tetap harus dijunjung tinggi, meski dunia semakin pragmatis. Ia mengajak semua pihak untuk tidak menukar nurani demi pengakuan semu.
“Semoga kita bisa belajar menerima kejujuran, membuka topeng diri, dan menjalin relasi manusia tanpa kepalsuan,” pungkasnya.
Lebih dari sekadar pentas mahasiswa, Dagdigdug hadir sebagai cermin tajam yang menyentil nurani dan mengajak penonton untuk kembali merenungi nilai-nilai dasar kemanusiaan yang kian tergerus zaman. ***
