KUDUS, ZONANEWS.ID – Beberapa siswa di SMAN 1 Bae curhat telah mendapatkan aksi bullying atau kekerasan oleh salah satu guru. Dalam curhatan itu menyebut bahwa ada yang mendapat kekerasan fisik seperti dipukul, tampar hingga dicubit.
Selain mengaku mendapat perlakuan kasar, curhatan tersebut juga menyebut bahwa beberapa siswa takut melapor karena tidak mendapatkan respon yang baik dari sekolah. Termasuk melapor pada guru Bimbingan Konseling (BK).
Plt Kepala SMAN 1 Bae, Puji Rahayu saat ditemui, Jumat, 23 Agustus 2024, menerangkan bahwa kejadian yang tengah ramai merupakan kesalahpahaman. Pihaknya juga telah meminta klarifikasi dari guru terkait dan beberapa siswa.
“Jadi itu pas kemarin upacara bendera (17 Agustus 2024), jadi ada beberapa siswa yang tidak ikut serta yang dilihat dari absensi. Mereka yang tidak ikut diminta untuk upacara mandiri lagi. Sedikit ada cek cok,” kata Puji.
Beberapa siswa merasa mengikuti upaca bendera, namun karena tidak mengisi absensi sehingga tetap mengikuti sanksi tersebut. Puji menilai bahwa guru pembimbing paskibra memang memiliki karakter yang tegas, sehingga terjadi kesalahpahaman.
“Saya juga minta keterangan sama anak-anak, dan mereka baik-baik saja. Cuma karena tegasnya guru pembimbing paskibraka itu jadinya ada yang merasa terintervensi,” tambahnya.
Usai adanya kejadian ini, Puji pun langsung melakukan refleksi internal terkait dengan kehati-hatian dari para tenaga pendidik terhadap penanaman pendidikan karakter. Terlebih di era sekarang yang sangat berbeda dengan era dahulu.
“Anak sekarang kan tidak seperti dahulu. Guru tegas nanti dinilai melakukan kekerasan, takutnya kalau kita tidak tegas malah pendidikan karakter anak akan diabaikan. Tegas itu juga bentuk kasih sayang guru untuk kebaikan anak,” tambahnya.
Lebih lanjut, Puji juga telah berkomunikasi kepada seluruh peserta didik agar tidak perlu merasa cemas dan takut untuk menjalin komunikasi dengan guru maupun pihak sekolah. Pihaknya menekankan, sekolah selalu terbuka untuk segala kritikan.
“Harapannya kita bisa saling mengisi dan saling menyadari, karena guru juga manusia dan murid adalah anak yang sedang tumbuh. Harus jembar segarane, dowo usus e,” tandasnya. ***
