“Jadi nanti guru dilatih melakukan screening sederhana menggunakan Kartu Snellen dengan jarak pemeriksaan 6 meter. Setiap sekolah akan diberikan fasilitas kartu tersebut agar pemeriksaan dapat dilakukan secara rutin,” terangnya.
Paulus membeberkan bahwa kegiatan ini tidak hanya berjalan di Kudus, tetapi juga menyasar guru di Pati dan Semarang. Program ini pun tidak berhenti pada pelatihan saja, tetapi Rotary Club akan memberikan bantuan kacamata gratis bagi siswa SD yang membutuhkan.
Sementara itu, Direktur RS Mardi Rahayu, dr. Pujianto menuturkan, sebagai fasilitas kesehatan tingkat lanjut menyambut baik dan sangat mendukung inisiatif Rotary Club dalam upaya deteksi dini ini.
Guru adalah agen penting dalam mendeteksi kelainan penglihatan maupun masalah kesehatan lainnya pada anak sejak dini. Oleh karena itu, RS Mardi Rahayu menyediakan fasilitas dan tenaga ahli yang dibutuhkan, serta siap bekerja sama untuk menekan angka gangguan refraksi pada anak usia dini.
“Saat ini, terjadi fenomena “tsunami informasi” melalui gadget. Oleh karena itu, selain deteksi dini, edukasi pencegahan seperti cara membaca yang benar dan posisi memegang HP yang tepat juga sangat penting untuk disampaikan,” tuturnya.
Kegiatan ini merupakan langkah awal. Setelah program berjalan, akan dilakukan evaluasi. Jika hasilnya menunjukkan angka kasus yang tinggi, program serupa perlu diperluas cakupannya tidak hanya di tingkat kota, tetapi hingga ke seluruh wilayah kabupaten. ***
