“Harapannya tingkat partisipasi pemilih di Kabupaten Kudus terus meningkat. Pada Pilkada kemarin partisipasi mencapai sekitar 86 persen. Semoga ke depan bisa lebih tinggi lagi sehingga program ini benar-benar memberikan manfaat,” katanya.
Sementara itu, Ketua KPU Kabupaten Kudus Ahmad Amir Faisol menyebut Pilketos Serentak merupakan inovasi yang belum banyak diterapkan di tingkat kabupaten di Jawa Tengah.
Program tersebut terlaksana berkat kolaborasi antara KPU dengan Pemerintah Kabupaten Kudus yang memberikan dukungan penuh, termasuk melalui surat edaran kepada seluruh sekolah.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi role model bagi KPU di daerah lain. Tujuan utamanya adalah meningkatkan indeks demokrasi sekaligus menyiapkan pemilih pemula agar memahami proses demokrasi sejak dini,” ujar Amir Faisol.
Ia menjelaskan, Pilketos Serentak diikuti 91 sekolah yang terdiri atas Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah (MA), dan empat Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB).
Pelaksanaan pemungutan suara dijadwalkan berlangsung secara serentak pada 16 September 2026, dengan penyesuaian jadwal bagi sekolah yang memiliki kegiatan khusus seperti praktik kerja lapangan.
Menurut Amir, seluruh tahapan Pilketos dirancang menyerupai pelaksanaan pemilu sesungguhnya, mulai dari pembentukan panitia, pencalonan, kampanye, pemungutan suara, penghitungan suara hingga penetapan ketua OSIS terpilih.
“Kami ingin adik-adik yang nantinya menjadi pemilih pemula pada Pemilu 2029 semakin melek demokrasi, memahami mekanisme pemilu, dan tidak apatis terhadap proses demokrasi,” jelasnya.
KPU Kudus juga menegaskan pentingnya penyelenggaraan Pilketos yang jujur, adil, dan berintegritas. Meski demikian, Amir memastikan praktik politik uang tidak menjadi tradisi dalam pemilihan ketua OSIS di sekolah-sekolah.***
