Namun, tak jarang dari kalangan anak-anak usia di bawah 15 tahun juga tertular penyakit TBC. Hal ini bisa terjadi lantaran tertular dari keluarga yang mengidap penyakit tersebut.
“Penularan bisa dari keluarga maupun di tempat kerja, maka dari penting untuk melakukan investigasi kontak erat untuk memutus penularannya,” tuturnya.
DKK Kudus, kata dr. Andini, juga terus melakukan upaya penemuan kasus TBC, seperti melakukan Active Case Finding atau kegiatan untuk mendeteksi kasus TBC aktif sebanyak mungkin.
Upaya penemuan kasus tidak hanya dilakukan secara pasif atau pasien datang untuk berobat karena merasakan gejala TBC. Tetapi juga melakukan upaya penemuan kasus secara aktif.
Penelusuran kasus dilakukan secara aktif, yakni dengan melakukan investigasi kontak erat atau mendatangi kelompok risiko penularan, baik di tempat kerja maupun keluarga.
“Jangan sampai terjadi fenomena gunung es, kasusnya hanya sedikit tetapi ternyata di lapangan banyak hanya saja tidak terdeteksi,” tambahnya.
Saat ini sudah ada tujuh alat TCM yang tersebar di lima puskesmas dan RSUD dr. Loekmono Hadi. Alat ini dinilai penting untuk memastikan penyakit TBC melalui tes dahak.
“Dua alat TCM ada di RSUD dan empat lainnya di puskesmas, di antaranya, di Puskesmas Gribig, Jekulo, Rejosari dan Kaliwungu, dan lalu satu di Labkesda, ” tuturnya.
Pihaknya pun meminta kepada masyarakat yang merasakan gejala penyakit TBC untuk tidak ragu melakukan pemeriksaan TCM. Sebelum semakin parah dan menular ke orang lain.
“Karena penyakit TBC adalah penyakit yang menular melalui droplet, maka kami imbau agar yang memiliki gejala seperti itu segera periksakan diri,” tuturnya. ***
