“Kejadiannya sekitar jam 11 malam. Awalnya pertengkaran terjadi di rumah itu. Kemudian keduanya lari ke arah rumah tetangga, ke jalan,” ungkapnya.
Sementara itu, Jamilah (46), kakak korban sekaligus anak dari T, mengatakan tidak mengetahui secara langsung pertengkaran yang berakhir dengan penusukan tersebut.
Jamilah tidak tinggal bersama korban maupun orang tuanya. Ia telah berkeluarga dan tinggal di wilayah Jepang Wetan.
Menurut Jamilah, FA beberapa kali pulang dalam kondisi mabuk. Ia mengaku kondisi tersebut terkadang membuat korban terlibat persoalan dengan keluarga.
“Mungkin karena setiap pulang itu memang mabuk. Terus kalau mukul, orang tua yang jadi sasarannya. Saya sendiri kurang tahu permasalahannya apa dengan orang tua,” ujar Jamilah.
Jamilah juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah mengalami kekerasan ketika mencoba menasihati korban.
“Saya sendiri sering, kadang kalau memberi nasihat itu dia tidak terima. Kalau pulang, kadang kalau ada saya di sini, saya juga dipukuli,” katanya.
Meski demikian, Jamilah tidak mengetahui apa yang terjadi sesaat sebelum FA mengalami luka tusuk. Ia menegaskan bahwa dirinya tinggal terpisah dari keluarga.
“Takut tidak. Cuma karena sudah berkeluarga, pinginnya mandiri saja,” ujarnya.
Hingga kini, polisi masih mendalami perkara tersebut. Pemeriksaan terhadap T masih dilakukan untuk mengungkap rangkaian kejadian dan motif yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.
Polisi juga berencana melakukan autopsi terhadap jenazah FA guna memastikan penyebab kematian serta kaitannya dengan luka yang ditemukan pada tubuh korban.
“Untuk selanjutnya kami akan melaksanakan autopsi terhadap jenazah untuk memastikan penyebab kematian,” pungkas AKP Subkhan.***
