Alami Stunting, Balita di Kudus Dirawat di Rumah Sakit, Begini Kondisinya

Ilustrasi. Sejumlah dokter saat melakukan penanganan pasien Balita di sebuah rumah sakit di Kudus beberapa waktu lalu (YM)

KUDUS, ZONANEWS.ID – Seorang balita di Kabupaten Kudus yang telah dinyatakan stunting kini tengah dirawat di Rumah Sakit Aisiyah Kudus. Balita tersebut dirawat sebab terjadi masalah dalam sistem pencernaannya.

Balita tersebut sudah dirawat sejak Kamis, 5 Oktober 2023 lalu. Hingga, Minggu, 8 Oktober 2023 kemarin, balita tersebut masih mendapatkan perawatan dan terapi di rumah sakit untuk membantu pemulihan gizi.

Kabid Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, Nuryanto, usai menjenguk balita tersebut menyampaikan bahwa kondisi balita yang mengalami stunting tersebut saat ini sudah membaik.

Bacaan Lainnya

Pihaknya juga menceritakan, sebelum dirawat di rumah sakit, balita yang tinggal di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu sempat dipantau oleh bidan desa karena kondisinya yang berbeda dengan balita lainnya.

“Anaknya memang sedikit istimewa, mengalami speed delay dan strabismus (mata juling), perkembanganmya tidak bisa seperti anak lain. Anak itu lahir 36 minggu juga dengan bblr (berat badan lahir rendah) yaitu 1,7 kilo,” katanya.

Pada perkembangannya, Puskesmas Dersalam yang menjadi puskesmas wilayah kerja mulai memantau perkembangan anak usia 9 bulan. Awalnya, Nuryanto menceritakan, sang ibu konsultasi masalah Makanan Pendamping ASI (MPASI).

Setelah ditangani di Puskesmas, balita tersebut disarankan kembali untuk rujuk ke Rumah Bintangku yang berada di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Sebab, kondisi anak yang kurang gizi dan perlu penanganan dokter spesialis.

“Kemudian dirujuk ke rumah sakit, diperiksa sama dokter spesialis anak. Kemudian mendapatkan terapi, dipantau 2 minggu, kembali ke rumah sakit terus dipasang NGT (Nasogatic Tube) itu,” lanjutnya.

NGT sendiri merupakan alat yang berfungsi untuk memberikan nutrisi kepada pasien. Ini mengingat, lanjut Nuryanto, kondisi berat badan balita tersebut yang masih kurang. Sehingga dicegah agar tidak menjadi gizi buruk.

“Sekarang anaknya usia 3,3 tahun, dan berat badannya kemarin sempat 10 kiloan, tapi ini karena sakit mungkin turun. Makanya kita terus pantau perkembangannya,” tambahnya.

Lantaran mengalami kondisi gizi kurang dan stunting dengan kategori pendek, lanjut Nuryanto, selama di rumah sakit balita tersebut mendapatkan Pangan Keperluan Medis Khusus (PKMK). PMKM ini pun diupayakan gratis.

“Kalau PMT lokal itu sifatnya preventif. Kalau anak sudah stunting itu upayanya kuratif kita berikan dalam bentuk PKMK di rumah sakit,” tukasnya. ***