Lebih lanjut, tutur Bambang, pelana kuda dicuci menggunakan air Sendang Rejoso. Kemudian air dipercikkan kepada warga sebagai ungkapan kebahagiaan karena Sendang Rejoso masih memancarkan airnya.
“Usai pencucian pelana kuda, dilakukan doa meminta hujan dan acara selamatan dengan makan bersama menggunakan sayur urap, opor ayam, gulai kambing, dan dawet sebagai harapan warga akan datangnya hujan,” kata Bambang.
Sendang Rejoso sendiri, dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai bekas tempat wudhu Sunan Muria. Tradisi ini, menurutnya, semula dilakukan untuk mengajak masyarakat sekitar Gunung Muria untuk melestarikan sumber air yang berada di kawasan Muria.
“Guyang Cekathak merupakan salah satu kearifan lokal untuk melestarikan alam di kawasan lereng Gunung Muria, yang mesti dirawat dan dijaga kendati mengalami beberapa transformasi seperti dulu dawetnya diguyang-guyang (disiram ke udara), tapi sekarang sudah tidak karena dinilai menyia-nyiakan makanan,” jelasnya.
Melalui terselenggaranya agenda Guyang Cekathak tersebut, Bambang berharap generasi yang akan datang dapat lebih peduli dengan kelestarian alam Muria.
“Dan menjada serta merawat tradisi yang ada di Muria,” pungkasnya.***
