Lebih lanjut, Ia menyebut bahwa perayaan Festival Kue Bulan di bekas klenteng pertama ini digelar secara khusus. Selain menjadi ruang perjumpaan antar kelompok agama, tempat ini juga dipercaya masih menyimpan benda-benda pusaka.
“Tempat ini dipilih sebagai ritual khusus, karena menjadi bekas klenteng pertama di Tanjungkarang dan masih ada benda pusaka yang tertinggal,” ujarnya.
Melalui ritual ini, dia berharap umat Thionghoa dan masyarakat semakin terbuka terhadap wawasan dan keberadaan situs bersejarah di Kudus.
Senada dengan itu, Kepala Kemenag Kudus Shony Wardana menilai perayaan Festival Kue Bulan ini menunjukkan tingginya toleransi dan kerukunan umat beragama di Kudus, khususnya Desa Tanjungkarang.
Menurutnya, situs kampung moderasi beragama di Kudus ini bisa menjadi ruang perjumpaan dari berbagai lintas agama. Ke depan, pihaknya akan mengembangkan situs moderasi beragama ini sebagai wisata religi yang memuat ikon-ikon dari masing agama.
“Ruang perjumpaan ini bisa menjadi magnet supaya lebih banyak yang berkunjung, semoga situs kampung moderasi ini segera terwujud di Tanjungkarang,” harapnya. ***
