Salah satu langkah yang dilakukan adalah menawarkan alternatif bisnis seperti penyewaan dapur kepada restoran yang membutuhkan fasilitas masak besar, penyediaan layanan katering, serta pengembangan paket wisata berbasis hotel.
“Beberapa hotel sudah menawarkan penyewaan dapur ke restoran dan jasa boga lainnya. Ini menjadi solusi untuk mengoptimalkan fasilitas yang ada,” jelas Kirom.
Selain itu, hotel-hotel di Kudus juga mulai beradaptasi dengan konsep hybrid event, yaitu mengombinasikan pertemuan offline dan online untuk tetap menarik pasar dari sektor bisnis dan pemerintahan yang mulai beralih ke sistem daring.
Lebih lanjut, Kirom berharap ada pertimbangan dari pemerintah pusat untuk memberikan kelonggaran bagi industri perhotelan yang masih dalam tahap pemulihan pasca-pandemi.
“Kami berharap ada peninjauan kembali terhadap kebijakan ini. Kebijakan efisiensi anggaran memang penting, tetapi sebaiknya ada keseimbangan agar industri ini tetap bisa bertahan,” harapnya.
Di tingkat nasional, PHRI dikatakan Kirom telah mengajukan audiensi dengan pemerintah pusat untuk menyampaikan dampak kebijakan ini terhadap industri perhotelan.
Sementara itu, di tingkat daerah, PHRI Kudus terus melakukan komunikasi dengan pemangku kebijakan untuk mencari solusi terbaik bagi sektor jasa akomodasi di wilayah ini.***
