Tablet tambah darah itu didistribusikan ke sekolah masing-masing, dengan harapan pelajar yang termasuk dalam kalangan remaja usia 12-18 tahun bisa mengonsumsi rutin tablet tersebut di sekolah seminggu sekali.
“Tapi pada kenyataannya, setelah dibagi tidak diminum, tapi bawa pulang oleh siswa-siswa itu,” ungkapnya.
Oleh karena itu, untuk memastikan program pengentasan stunting melalui remaja yang bebas dari anemia berjalan sukses di Kudus, Bellinda akan melakukan pemantauan langsung aksi minum tablet tambah darah itu di sekolah.
Pihaknya pun akan berkoordinasi dengan dinas terkait, yakni Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) serta DKK Kudus, untuk ikut safari sekolah sebagai langkah pemantauan aksi minum tablet tambah darah.
“Pekan ini atau habis lebaran akan muter, kita galakkan minum tablet tambah darah di sekolah. Kita koordinasi bersama Disdikpora untuk strategi agar tablet tambah darah diminum di sekolah, dan tidak dibawa pulang,” tandasnya. ***
