“Kalau Tari Lajur Caping Kalo bercerita tentang proses lahirnya caping, maka Tari Caping Kalo lebih mengisahkan makna hidup yang terkandung di dalamnya,” jelas Sekar.
Dalam proses penciptaan karya ini, Sekar menggandeng Hamdani sebagai penata musik. Sementara syair dan lagu ditulis serta dinyanyikan oleh Romo Lukas Heri Pumawan MSF, yang menyusunnya di sela tugas pastoral di Argentina.
Peluncuran Tari Caping Kalo mendapat apresiasi dari Endhah Sam’ani Intakoris yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menyatakan dukungan penuh terhadap karya tari yang mengangkat filosofi perempuan Muria ini.
“Tentu kami apresiasi dan support penuh. Apabila Tari Caping Kalo mau diangkat dan diperkenalkan kepada masyarakat Kabupaten Kudus, dengan senang hati kami bantu,” kata Endhah Sam’ani Intakoris.
Ia mengaku tertarik dengan kesinambungan karya yang dihadirkan Kinanti Sekar Rahina, setelah sebelumnya meluncurkan Tari Lajur Caping Kalo dan kini menghadirkan Tari Caping Kalo dengan sudut pandang berbeda.
“Saya tertarik, kemarin sudah launching Tari Lajur Caping Kalo, sekarang Tari Caping Kalo-nya sendiri. Ini kan masing-masing punya filosofi yang berbeda-beda,” ujarnya.
Endhah juga mengungkapkan rencana pengembangan Tari Caping Kalo ke depan. Tarian tersebut direncanakan akan ditampilkan secara massal pada peringatan Hari Jadi Kota Kudus tahun 2026 dan ditargetkan meraih rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
“Rencananya tahun 2026, Tari Caping Kalo akan dijadikan rekor MURI pada Hari Jadi Kota Kudus. Tahun kemarin kita punya Tari Kretek, sekarang giliran Caping Kalo,” pungkasnya.
Peluncuran Tari Caping Kalo diharapkan dapat memperkaya khazanah seni tari berbasis tradisi di Kudus sekaligus menjadi media pelestarian budaya lokal.***
