“Putri ini anak terkahir kami dari tiga bersaudara. Dia anak yang sangat peduli dengan orang lain, dan sangat ingin mewujudkan harapan ayahnya menjadi polwan, meskipun belum bisa berhasil,” katanya.
Kendati demikian, Rukhayah merasa sangat bangga kepada mendiang anaknya yang telah berhasil menyandang gelar sarjana walaupun sudah tutup usia. Ia berharap, Putri bisa mendapatkan posisi yang indah di Surga.
“Meskipun hanya sekedar nama lulusan, saya sangat bangga dengan anak saya. Dia anak yang rajin, disiplin dan sangat energic. Kenangan bersamanya tidak bisa terlupakan,” ujarnya berkucuran air mata.
Sementara itu, Rektor UMKU Rusnoto mengatakan bahwa penyerahan ijazah bagi wisudawan yang meninggal dunia dengan diwakilkan oleh keluarga atau orangtuanya, merupakan hak yang memang harus didapatkan.
Pihaknya menyebut, ada dua mahasiswa yang sebenarnya meninggal dunia dan seharusnya mengikuti prosesi wisuda pada kali ini. Namun hanya satu keluarga, yakni dari mendiang Diyah Putri Rahayu Utami, yang bisa hadir.
Sementara satu mahasiswa lainnya yakni, atas nama Siti Chotimah yang merupakan mahasiswa Program Studi (Prodi) Ners di UMKU. Mahasiswa asal Rembang tersebut juga diketahui meninggal dunia lantaran sakit.
“Kita menyerahkan di momen wisuda, Alhamdulillah orangtuanya datang. Jadi itu haknya yang selesai di wisuda, jadi bagi keluarga itu wujud dari dia sekolah bentuknya ijazah,” katanya. ***
