Menurutnya, kemampuan menggunakan AI perlu diimbangi dengan pemahaman etika dan tanggung jawab. Dengan begitu, teknologi yang semakin mudah diakses tersebut dapat digunakan secara positif dan tidak menjadi sarana untuk melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
Materi keamanan digital juga dikemas dalam bentuk cerita interaktif. Para siswa diminta mengikuti alur cerita yang menggambarkan sejumlah persoalan di dunia maya dan menentukan langkah yang tepat untuk menghadapi situasi tersebut.
Beberapa persoalan yang diangkat antara lain berkaitan dengan modus penipuan digital serta penyebaran undangan palsu yang berpotensi digunakan untuk mendapatkan data atau identitas pribadi.
“Pada cerita itu, siswa diminta untuk memecahkan permasalahan dan bagaimana menangkalnya,” ungkapnya.
Senopati Academy tidak hanya menyediakan pembelajaran mengenai AI dan keamanan digital. Platform tersebut juga dilengkapi permainan edukatif, simulasi IELTS dan TOEFL, serta fitur yang dapat membantu pelajar mengenali minat dan potensi diri.
Siswa juga dapat memanfaatkan berbagai informasi di dalam platform untuk merencanakan masa depan, termasuk mencari referensi pendidikan, pengembangan karier, hingga peluang pekerjaan.
Polres Kudus berharap pembekalan tersebut dapat membuat pelajar semakin siap menghadapi perkembangan dunia digital.
Selain memahami teknologi terbaru, siswa diharapkan memiliki kemampuan berpikir kritis dan lebih waspada terhadap informasi maupun modus kejahatan yang beredar melalui internet.
Salah seorang siswa SMK Wisuda Karya, Abiprya, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut. Ia berharap pemahaman yang diperoleh dapat membantunya menggunakan kecerdasan buatan secara lebih tepat.
“Harapan saya bisa lebih paham tentang AI, menggunakannya dengan bijak, serta menghindari tindak kejahatan,” tandasnya.***
