Determinasi Witiarso Utomo yang tinggi didukung oleh keinginan masyarakat untuk perubahan, keterlibatan sosial, dan aspek psikologis yang lebih digemari. Keunggulannya juga diperkuat oleh data Pandawa Research yang menunjukkan bahwa 51,7 persen masyarakat Jepara menerima pemberian uang dari calon bupati, tetapi tetap memilih sesuai hati nurani.
“Hal ini berarti masyarakat Jepara mulai melek politik. Maka, tiga preferensi di atas tidak akan jauh berubah,” ujar Niswa.
Ia menambahkan, tingginya survei Witiarso Utomo tidak lepas dari peran relawan yang membantu mengenalkan program kerja dan sosoknya hingga ke tingkat paling bawah.
“Faktor gerakan relawan juga menjadi penting, karena pendatang baru butuh simpul-simpul dukungan untuk merangkul semua, terutama di daerah yang penetrasi masih rendah, tanpa mengurangi intensitas basis massa yang sudah kuat,” tambahnya.
Secara terpisah, Irwan Saputra, Pakar Praktisi Komunikasi Publik dari Kindi PR and Strategic Communication, menyatakan bahwa kekalahan petahana dalam survei Pandawa Research disebabkan oleh komunikasi politik yang belum efektif.
“Jarak persentase yang tipis antara petahana dan kandidat baru disebabkan oleh komunikasi politik ke akar rumput yang belum efektif, baik melalui media maupun sosial media lainnya, sehingga elektabilitas petahana belum bisa jauh melampaui kandidat baru,” kata Irwan. (***)
