Stunting dan Gizi Buruk Masih Jadi PR, Pemkab Kudus Satukan Kekuatan Antar OPD

DKK Kudus pun menggelar bimbingan teknis dalam peningkatan kompetensi petugas terkait tatalaksana kasus gizi, di Gedung Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kudus, Senin, 29 September 2025. (Foto: Siti Islamiyah/Zonanews.id)

“Evaluasi terus dilakukan secara rutin setiap bulan. Termasuk melakukan pemantauan rutin sehingga ketika ada kenaikan angka langsung ditindaklanjuti faktor penyebabnya,” ucapnya.

DKK Kudus juga menganggarkan Rp 1,3 miliar untuk pengadaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk ibu hamil dan balita. PMT ini menjadi salah satu langkah intervensi untuk mengatasi kasus stunting.

“Untuk ibu hamil, PMT diberikan dalam bentuk susu tambahan. Sedangkan untuk balita, ada dua jenis, yaitu PKMK dan PDK,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

DKK Kudus juga melakukan deteksi dini kasus gizi buruk dan underweight (berat badan kurang). Meski kasus gizi buruk tercatat menurun, pihaknya menekankan bahwa penanganannya berbeda dengan stunting.

“Kalau gizi buruk, kadang disertai penyakit penyerta seperti TBC, HIV, atau sakit jantung. Penanganannya harus sesuai dengan kondisi masing-masing pasien,” ujarnya.

Ia menambahkan stunting bukan sekadar masalah pertumbuhan fisik, tetapi juga berdampak pada perkembangan kognitif anak. Karena risiko jangka panjangnya bisa mengganggu kecerdasan dan produktivitas di masa depan. ***