Untuk mendukung proses pembelajaran, narasumber yang dihadirkan berasal dari berbagai unsur. Mulai dari institusi pendidikan, tenaga kesehatan dari puskesmas, pihak kecamatan, hingga pemerintah desa turut terlibat di dalamnya.
Winarno juga mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat terhadap program Sekolah Lansia sangat baik. Para peserta juga mengikuti setiap kegiatan dengan gembira dan semangat.
Kegiatan dilaksanakan secara rutin dengan jadwal pertemuan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. Sebagian besar kegiatan digelar di balai desa, sementara khusus di Desa Besito dilakukan di Musala.
“Alhamdulillah antusiasmenya sama, kegiatan berjalan terus. Kalau dulu bisa empat kali dalam sebulan, sekarang disesuaikan menjadi dua kali dalam sebulan karena dinilai sudah cukup cepat dalam penyampaian materinya,” jelasnya.
Program Sekolah Lansia ini merupakan pengembangan dari program Bina Keluarga Lansia (BKL) yang bertujuan meningkatkan pengetahuan serta kemandirian lansia dan keluarga dalam menjaga kualitas hidup.
Keberadaan sekolah tersebut diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mendorong lansia tetap produktif dan memiliki aktivitas sosial.
Sebagai informasi, pada 2025 lalu Sekolah Lansia di Kabupaten Kudus telah dilaksanakan di empat kecamatan. Sementara untuk tahun ini cakupan diperluas menjadi lima lokasi.
Adapun pelaksanaan wisuda peserta tahun 2026 masih akan menyesuaikan kondisi, dengan sejumlah opsi lokasi seperti kantor Dinas Sosial P3AP2KB maupun Pendapa Kabupaten Kudus. ***
