Atas kesalahpahaman itu, perlahan peradaban manusia dijauhkan dari paradigma teosentris. Untuk itu, pihaknya mengingatkan tugas mengembalikan kiblat maupun tujuan utama manusia kepada Allah SWT adalah keharusan bersama.
“Ajaran antroposentris menjauhkan kita dari ajaran Allah SWT. Disadari atau tidak, sistem yang rapuh membawa manusia menjauh dan semakin terjerumus ke dalam kegelapan dan mengalami kemunduran,” sambungnya.
Sebab itu, mencerahkan semesta menjadi agenda mendesak menurut Din Syamsudin. Terlebih di Indonesia, buta aksara moral juga telah menjalar ke tiap penduduknya.
Pernyataan tersebut ada karena banyak kalangan terpelajar bahkan profesor yang tidak bisa membaca huruf-huruf moral. Menjadikan dirinya sebagai insan yang tercela, seperti yang belakangan ini terlihat.
“Bisa kita saksikan, betapa banyak kaum terdidik yang justru keluar masuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Indonesia mengalami buta aksara moral,” tegasnya.
Oleh sebab itu, melalui Muktamar yang ada, Muhammadiyah dan Aisyiyah bertekad ingin mengembalikan nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan aturan Islam, diharapkan bisa memperbaiki masalh yang ada. Sebagai dakwah dalam mencerdaskan sekaligus memajukan kehidupan bangsa. ***
