Lewat istigosah bersama, tradisi ini semacam salat istisqo untuk meminta hujan. Berdoa merupakan anjuran dan sarana memohon kepada Allah. Guyang cekathak menjadi sarana masyarakat colo untuk berdoa.
“Biasanya dilakukan di Jumat wage pada pertengahan September, ini dari nenek moyang,” tambahnya.
Usai upacara ritual pembasuhan pelana kuda, dilanjutkan dengan doa bersama di Sendang. Selanjutnya, selametan dengan makan bersama dan pembagian dawet muria kepada ratusan warga.

Sementara, ketika ditanya soal pengguyuran dawet ke udara, ia menerangkan itu hanya semacam simbol turunnya hujan. Dawet diguyang (dilempar-lembar, red) ke udara di area Sendang Rejoso.
“Udan dawet, sebagai doa meminta hujan. Ini bukan sholat istisqo tetapi langsung minta hujan. Seakan-akan hujan besar turun seperti cendol,” terang Muhdi.***
