“Bahkan di tingkat Asia Tenggara pun juga ada. Jadi paling tidak kita bisa jadi jembatan bagi anak-anak untuk mengembangkan potensi bermain gamenya,” terangnya.
Lomba ini juga digelar dengan maksud untuk membantu para orangtua dalam memahami manfaat bermain gadget yang positif bagi anak. Bahwasanya bermain gadget, utamanya game bisa diarahkan kepada hal-hal yang bisa membantu mengembangkan potensi anak.
“Teknologi ga bisa dilawan, yang bisa kita lakukan adalah menyikapinya. Even ini dalam rangka mengarahkan agar anak tidak mengarah pada game yang negatif. Karena sekarang banyak orang profesi jadi gamers,” pungkasnya.
Sementara itu, Fahriza Fadli Ardiansyar, siswa MI Muhammadiyah 1 Kudus yang ikut dalam lomba, mengaku senang bisa beradu bakat dalam permainan E-Sport Mobile Legend. Siswa kelas 6 ini mengaku sudah senang bermain game online sejak duduk di bangku kelas 5.
“Biasanya main sampe 2 jam, soalnya kalau lebih dari 2 jam dimarahin orangtua,” katanya.
Menurut penuturannya, tidak ada persiapan khusus dalam mengikuti lomba E-Sport Mobile Legend ini. Dirinya bermain seperti biasanya dan menikmati permainan tanpa rasa gugup atau takut. ***
