Jumiah juga mengaku kurang nyaman saat bekerja di pabrik. Dua orang mandor yang biasa bekerja dengan mereka dikatakan sering mengancam karyawan.
“Kalau mengeluh material tembakau kurang baik, tidak ada respon. Pernah diancam juga kerjaan saya dikurangi, semua itu merasa terancam,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Ploso, Mas’ud mengungkapkan, PR Kembang Surya merupakan pabrik di bawah naungan seseorang yang bernama Hendrik.
Menurut Mas’ud, Hendrik selama ini cukup sulit dihubungi. Ketika ditelepon atau dikirim pesan singkat, Hendrik jarang membalas.
Atas aksi yang dilakukan oleh para buruh rokok PR Kembang Surya hari ini, Mas’ud merasa prihatin. Karena aksi yang mereka lakukan bukan pertama kalinya, dalam setahun ini saja, mereka sudah dua kali demo.
“Mohon kepada pihak yang berwenang untuk menindaklanjuti ini, karena hampir setiap tahun ada seperti ini,” kata Mas’ud.
Mencoba mencari jalan keluar atas permasalahan ini, Mas’ud akan mencoba berkomunikasi dengan pemilik pabrik terlebih dahulu.
Bila tidak ada titik temu, dirinya akan mengirim surat ke Serikat Pekerja yang ada di Kudus hingga Disnaker Kudus agar hak-hak karyawan dari PR Kembang Surya bisa terpenuhi.***
