Sang Maestro pun membeberkan bahwa Ia berkesempatan menciptakan Tarian Cahya Nojorono bersama perusahaan rokok setempat, yang didalamnya juga membubuhkan caping kalo dalam kostum tarinya.
“Khusus caping kalo ini saya tangani sendiri, karena kalau bicara seni itu adalah rasa,” katanya.
Ia juga ingin menanamkan kecintaan pada kaula muda untuk tekun belajar dalam hal apapun. Termasuk mencintai budaya lokal, seperti caping kalo ini. Karena, yang akan mewarisi budaya itu adalah para kaula muda saat ini.
“Saya munculkan juga dalam Tari Cahya Nojorono itu ada tokoh yang namanya juga Nojorono, sebagai cerminan dari Nojorono itu sendiri,” tuturnya.
Sementara itu, salah satu penonton asli Kudus, Tiara mengaku sengaja hadir khusus untuk melihat penampilan Didik Nini Thowok. Ia sendiri sudah menyukai sang maestro tari itu sejak kecil dan menjadikannya sebagai role model.
“Saya dulu pas kecil suka nari, jadi memang role modelnya eyang Didik. Senang sekali bisa lihat penampilannya secara langsung,” katanya. ***
