Ia merinci, sortie pertama dilakukan pada pukul 06.00–08.00 WIB, sortie kedua pukul 09.00–11.00 WIB, sortie ketiga pukul 13.00–15.00 WIB, sortie keempat pukul 16.00–18.00 WIB, dan sortie kelima atau terakhir pada pukul 19.00–21.00 WIB. Seluruh penerbangan difokuskan pada wilayah Pantura hingga Muria Raya, menyesuaikan dinamika pergerakan awan hujan hasil analisis BMKG.
Pesawat yang digunakan dalam operasi ini berjenis PK-SNP adalah jenis pesawat Pilatus PC-6/B2-H4 Turbo Porter, yang dioperasikan oleh maskapai Indonesia, Smart Aviation (Smart Cakrawala Aviation).dan diawaki oleh kru penerbang yang sama pada setiap sortie. Awak pesawat tersebut terdiri dari Capt. Januar dan Capt. Imam sebagai kapten penerbang, serta First Officer (FO) Jeremy dan FO William Raka.
Menurut Bergas, pola penerbangan yang dilakukan secara berlapis dari pagi hingga malam bertujuan untuk mengantisipasi pertumbuhan awan hujan sepanjang hari agar tidak terkonsentrasi dan jatuh bersamaan di daratan.
“Dengan jadwal berlapis ini, awan hujan bisa kita kendalikan sejak awal pertumbuhannya. Jadi tidak menumpuk dan tidak jatuh sekaligus di daratan,” imbuhnya.
Ia berharap, melalui operasi modifikasi cuaca tersebut, potensi hujan ekstrem yang dapat memicu banjir dan longsor di wilayah Jawa Tengah, khususnya kawasan Muria Raya, dapat diminimalkan selama periode rawan cuaca ekstrem ini.***
