Menurut Agus, H.M. Nitisemito merupakan sosok penting yang berjasa mengangkat industri kretek Kudus pada periode 1922 hingga 1944. Keberhasilannya sebagai saudagar besar menjadikan namanya dikenal luas sebagai Raja Kretek dan dianggap layak diabadikan sebagai bagian dari sejarah daerah.
Sementara itu, Tjondronegoro V yang memimpin Kudus pada 1858–1879 dikenal sebagai pemimpin intelektual yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan dan literasi.
Selain menulis buku “Lampah-Lampahipun Raden Mas Arya Purwolelono” yang diterjemahkan ke beberapa bahasa, ia juga tercatat melakukan perjalanan ke berbagai wilayah di Jawa dan mendokumentasikannya dalam bentuk karya tulis.
“Bahkan ia menjadi pendiri sekolah pribumi pertama di Kudus, dan membuat kurikulum yang diikuti semua wilayah,” ujarnya.
Agus menilai, gagasan pembangunan patung ini menjadi langkah untuk menghidupkan kembali ingatan masyarakat terhadap tokoh-tokoh yang pernah berperan besar dalam perjalanan sejarah Kudus.
Selain patung, kawasan tersebut nantinya akan dilengkapi bangunan yang menampilkan berbagai koleksi bersejarah.
“Termasuk benda peninggalan seperti buku akan kami cetak ulang, arsip, batik, payung kebesaran hingga kendaraan akan dipamerkan di ruang tersebut. Untuk patungnya, kami ingin seidentik mungkin dengan aslinya, seperti di foto lama. Dengan beskap dan iket singel Kudusan,” bebernya.
Pemkab Kudus menargetkan seluruh proyek tersebut rampung pada akhir 2026 sehingga dapat menjadi destinasi baru wisata sejarah di daerah. ***
