Di samping itu, menyampaikan bahwa jumlah kejadian bencana meningkat signifikan, mencapai lebih dari 2000 kejadian pada tahun 2023. Dampaknya melibatkan kerugian, luka berat, dan korban meninggal dunia. Bergas menekankan perlunya bersatu untuk mengatasi bencana yang datang tanpa pemberitahuan.
“Peningkatan signifikan jumlah kejadian bencana pada tahun 2023 membawa dampak berat. Saatnya bersatu, karena bencana tidak memberi pemberitahuan”, ucapnya.
Dalam menghadapi bencana, Bergas mengajak para relawan untuk selalu siap dalam menghadapi bencana, karena kesiapan di wilayah menjadi kunci dalam menangani bencana secara cepat. Untuk itu, Bergas menekankan lima prinsip yang harus selalu dipegang teguh oleh relawan yaitu mandiri, profesional, solid, terus bersinergi, dan akuntabilitas.
“Saya mengajak untuk memahami 5 prinsip dalam menghadapi bencana yaitu mandiri, profesional, solid bersinergi dan akuntabilitas”, ujarnya.
Bergas juga mendorong pengaktifan kembali siskamling di daerah sebagai sensor keamanan wilayah. Kearifan lokal menjadi kunci dalam menghadapi bencana dengan sigap berkoordinasi bersama relawan.
“Perlunya pengaktifan siskamling di daerah sebagai sensor keamanan wilayah karena kearifan lokal adalah kunci utama dalam menghadapi bencana, dengan sigap berkoordinasi bersama relawan demi menjaga keselamatan dan keamanan masyarakat”, sebutnya.***
