Menurutnya, pementasan tersebut merupakan upaya menghadirkan tafsir baru yang relevan dengan dunia pendidikan, kondisi sosial, serta pengalaman para pemain yang merupakan calon pendidik.
“Teater tidak hanya sekadar pertunjukan, tetapi cara membaca kehidupan. Sebagaimana partikel, saya ingin menghadirkan ruang penafsiran ulang atas berbagai persoalan manusia,” ujar Jessy.
Ia menjelaskan, berbagai unsur lingkungan seperti bambu, kehadiran tokoh-tokoh hewan, hingga simbol hutan sengaja dihadirkan sebagai bagian dari pendekatan adaptasi karya sastra tersebut.
Baginya, perjalanan yang tampak tersesat justru menyimpan proses pembelajaran yang tidak selalu bisa ditempuh melalui jalan lurus.
“Sesat bukan berarti gagal menemukan arah, ia justru menjadi keberanian, berani memasuki wilayah baru, bukan sekadar tujuan, tetapi proses setiap langkah yang ditempuh,” tegasnya.
Salah seorang pemeran, Suhaibatul Musdalifah, mengaku memperoleh banyak pengalaman selama mengikuti proses produksi. Selain belajar membangun karakter, ia juga merasakan manfaat teater sebagai bekal calon guru untuk memahami beragam sifat dan emosi manusia.
“Awalnya cukup kaget karena harus memainkan dua karakter sekaligus. Tetapi setelah pendalaman karakter saya baru mendapat feel-nya. Tentu menyenangkan bisa berproses dan berteater bersama teman-teman lainnya,” tuturnya.
Ia berharap pementasan ini membuat lebih banyak orang menemukan makna kebahagiaan tanpa merusak alam, serta menyadari bahwa tidak semua pencarian harus berakhir dengan jawaban karena setiap perjalanan memiliki maknanya sendiri. ***
