“Tahun ini dimulai penilaian Adipura, mohon doa restu dan dukungan agar memperoleh penghargaan kembali. Setelah dua tahun tidak ada karena pandemi,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, Mawar Hartopo yang hadir secara langsung mengatakan bahwa masalah sampah dan iklim sudah sepatutnya mendapat perhatian bersama. Karena pada dasarnya setiap orang membuang sampah, contoh sederhananya adalah sampah rumah tangga.
“Sampah yang paling besar (jumlahnya) itu dari rumah tangga. Maka semua sampah kering atau basah, organika atau anorganik jangan dijadikan satu tempat. Karena selain bau, nantinya tidak bisa diolah,” katanya.
Sampah organik yang sudah terpilah akan diolah menjadi kompos yang bermanfaat sebagai pupuk tanaman. Pupuk kompos tersebut pada akhirnya akan dikembalikan lagi untuk menyuburkan tanaman, khususnya penghijauan.
“Penghijauan adalah buat kelangsungan hidup anak cucu kita. Kita hidup di dunia ini hanya sementara, maka yang bisa kita lakukan adalah dengan merawat alam ini,” pesannya dalam Webinar yang menghadirkan Narasumber dari Djarum Kudus, Redi J Prasetyo.
Mawar Hartopo mengungkapkan telah menerapkan pilah sampah di rumah sejak enam bulan lalu. Awalnya memang tidak mudah karena harus selalu mengingatkan keluarga untuk membuang jenis sampah ke tempat sampah yang sesuai. Namun, setelah dibiasakan setiap hari akhirnya kebiasan baik tersebut menjadi ringan.***
