KUDUS, ZONANEWS.ID — Ada satu tradisi unik yang dilakukan oleh Masyarakat Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus setiap musim kemarau. Tradisi itu bernama guyang cekathak. Seperti apakah kegiatannya?
Guyang cekathak di Desa Colo dilaksanakan setahun sekali, bertepatan pada Jumat wage di bulan September. Tahun ini, guyang cekathak digelar cukup meriah, Jumat, 15 September 2023.
Tradisi guyang cekathak dilakukan di Sendang Rejoso. Ketua Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria (YM2SM), Abdul Manaf menyebut Sendang Rejoso dulunya merupakan tempat mandi dan berwudu Sunan Muria.
Manaf menjelaskan, nama guyang cekathak berasal dari bahasa Jawa. Guyang artinya menyiram atau membasuh, sedangkan cekathak artinya sebagai pelana kuda. Guyang Cekathak bermakna tradisi membasuh pelana Kuda milik Sunan Muria.
Tradisi ini sudah berlangsung sekitar 25 tahun. Cekathak atau pelana kuda Sunan Muria sendiri sudah berusia lebih dari 500 tahun. Tradisi ini dilestarikan untuk ngalap berkah dan menghormati peninggalan Sunan Muria.

Di samping itu, tradisi guyang cekathak juga menjadi ritual masyarakat colo untuk meminta hujan pada masa kemarau panjang. Sebelum prosesi pembasuhan, juga dilakukan doa bersama di Makam Sunan Muria.
