Dikisahkan Zaini, bahwa menurut cerita turun-temurun, jaman dahulu ada dua dukuh. Kemudian ada orang tua di gawangan yang minta beras atau padi untuk memberi makan perkutut tetapi tidak diberi oleh warga setempat.
“Sedangkan di dukuh lainnya, ada orang tua tersebut meminta air, lalu kemudian dikasih. Lalu orang tua itu menancapkan tongkat kemudian muncullah mata air (belik atau sendang) Kamulyan itu,” imbuhnya.
Seiring berjalannya waktu, cerita tersebut terus berkembang. Karena itu ada kepercayaan lain yang mengatakan bahwa di Dukuh Piji Wetan orang tua sepuh tersebut meminta beras, dan kemudian diberi. Kemudian warga Dukuh Piji Wetan didoakan agar mulia dan bisa berangkat haji.
“Nah, menariknya, banyak masyarakat Dukuh Piji Wetan ini yang memang sudah berangkat haji. Seperti bukan suatu hal yang sulit bagi masyarakat sini,” jelasnya.
Di Desa Lau, agenda sedekah banyu berangkat dari kisah tersebut.***
