Setidaknya, dalam empat tahun terakhir, pihaknya berinisiatif untuk mengembalikan tradisi Manganan dengan menggunakan kereneng. Alasannya, dia ingin mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik.
Selain itu, tujuan Ngateno yaitu supaya generasi sekarang tidak lupa dengan tradisi leluhur. Dampak positifnya, pemuda-pemuda yang sebelumnya tidak bisa membuat kereneng, kini mereka bisa membuatnya sendiri.
“Jadi, sekarang kami sepakat untuk mengurangi penggunaan plastik dengan cara menjalankan tradisi leluhur. Semua yang kami suguhkan kepada masyarakat berbahan alami dari alam di sekitar kita,” tuturnya.
Ngateno menyebutkan, tahun ini panitia menyediakan sedikitnya 2.500 kereneng. Nasi yang sudah disiapkan panitia akan diberi lauk-pauk alakadarnya masyarakat desa. Seperti tahu, tempe, ikan dan sedikit irisan daging kambing.
Tradisi Manganan sendiri sudah rutin dilaksanakan setiap Malam Senin Pahing di bulan Dzulhijjah. Selain arak-arakan, dilaksanakan juga ziarah bersama, hataman Al-Qur’an, pengajian umum dan pementasan rebana tradisional.
“Masyarakat di sini meyakini bahwa kereneng yang didoakan di acara haul Mbah Sutojoyo membawa keberkahan tersendiri. Berkah untuk masyarakat. Berkah juga untuk lingkungan dan alam,” pungkas Ngateno. (***)
