Kisah Salwa Aristotel dan Perjalanan Panjang Menemukan Jalan Hidup Lewat Seni

Muhammad Salwa Aristotel saat memainkan alat musik untuk mengiringi penyanyi. (Foto: Istimewa)

Seorang teman Addie MS mengetahui kemampuan Salwa bermain musik. Ia kemudian diminta memainkan sebuah lagu untuk direkam.

“Saya kemudian diminta memainkan sebuah lagu untuk direkam. Rekaman tersebut dikirimkan kepada Mas Addie MS,” terang Salwa.

Rekaman tersebut menjadi awal terbukanya kesempatan bagi Salwa untuk bertemu dengan musisi yang selama ini dikaguminya.

Bacaan Lainnya

Pada 2018, Salwa akhirnya mendapat kesempatan bermain musik satu panggung bersama Addie MS.

Bagi Salwa, momen tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam perjalanan musiknya.

Kesempatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa kemampuan yang terus diasah dapat membuka peluang baru.

Tak Hanya Bermusik

Perjalanan Salwa dalam mengembangkan diri tidak berhenti di bidang seni.

Ia juga menekuni olahraga, terutama renang. Setelah menjalani latihan selama bertahun-tahun, Salwa berkembang menjadi atlet paralimpik.

Dalam Pekan Paralimpik Daerah 2022, ia berhasil meraih tiga medali emas.

Selain olahraga, Salwa juga pernah meraih prestasi dalam ajang FLS2N tingkat provinsi serta berbagai kegiatan lainnya.

Berbagai pengalaman tersebut membuat Salwa tidak membatasi dirinya hanya pada satu bidang.

Seni rupa, musik, olahraga hingga pendidikan menjadi bagian dari prosesnya dalam mengenali kemampuan dan menentukan arah hidup.

Membawa Mimpi ke Jakarta

Setelah menyelesaikan pendidikan di Solo, Salwa kembali mengambil langkah besar.

Ia melanjutkan pendidikan ke Jakarta dan tercatat sebagai mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Program Studi Seni Musik.

Lingkungan Jakarta memberikan pengalaman baru. Sebagai salah satu pusat kegiatan seni, Salwa harus kembali beradaptasi dengan lingkungan dan persaingan yang berbeda.

“Hidup di Jakarta dengan persaingan seni yang ketat, menuntut saya untuk kembali beradaptasi,” ungkapnya.

Namun, pengalaman hidup sejak kecil membuat Salwa terbiasa menghadapi perubahan.

Dari Kudus, ia mendapatkan dasar pendidikan dan keberanian untuk mencoba. Di Solo, ia belajar mandiri sekaligus menemukan berbagai bakat dalam seni dan olahraga. Sementara di Jakarta, ia berusaha memperdalam musik dan memperluas langkahnya sebagai calon musisi.

“Semua Bisa Dilakukan Asal Mau Belajar”

Perjalanan panjang tersebut akhirnya bermuara pada satu prinsip yang terus dipegang Salwa.

“Semua bisa dilakukan asal mau belajar.”

Kalimat sederhana itu menggambarkan bagaimana Salwa menjalani kehidupannya.

Ketika menemukan aktivitas yang sulit dilakukan, ia mencari cara lain. Ketika ingin menguasai alat musik, ia berlatih. Ketika mendapatkan kesempatan, ia berusaha memanfaatkannya.

Perjalanan dari Kudus, Solo hingga Jakarta menjadi bagian dari proses Salwa dalam menemukan jalan hidupnya.

Musik kini menjadi salah satu ruang bagi Salwa untuk terus berkembang dan berkarya.

Cara yang digunakannya dalam memainkan alat musik mungkin berbeda dengan kebanyakan orang. Namun, perbedaan tersebut tidak menghalanginya untuk menghasilkan karya dan tampil di hadapan publik.

Bagi Salwa, perjalanan tersebut bukan tentang keterbatasan yang dimiliki, melainkan tentang bagaimana terus belajar dan menemukan cara untuk berkembang.

Dari seorang anak yang tumbuh di Kudus, Salwa kini membawa mimpinya ke Jakarta. Ia terus menekuni musik sembari memegang prinsip yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

“Semua bisa dilakukan asal mau belajar.”***