Sam’ani juga mendorong penambahan fasilitas pendukung, seperti papan peringatan di titik rawan, pos pengawasan tambahan, bahkan mengusulkan penggunaan gelang GPS untuk memudahkan pencarian jika terjadi kasus pendaki hilang atau tersesat.
Salah satu pendaki asal Demak, Nuri Putri, mengaku mendapatkan pengarahan dari petugas pos mengenai pentingnya mematuhi aturan dan menjaga kebersihan gunung.
Stefanus Suryano, penjaga pos pendakian Natas Angin, menjelaskan bahwa jalur menuju puncak saat ini masih ditutup sebagai bentuk penghormatan atas musibah yang terjadi.
“Untuk sementara pendaki hanya diperbolehkan sampai di Pos 6 atau petilasan Soekarno. Rencana pembukaan kembali kemungkinan 2 Juli, tapi belum pasti,” jelasnya.
Meski jalur puncak ditutup, tercatat puluhan pendaki melakukan registrasi pada hari itu. Mayoritas dari mereka mendaki untuk tujuan spiritual ke lokasi seperti Pos 5 atau petilasan Abiyoso, seiring momen bulan Sura yang dianggap sakral.
Dengan kunjungan ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya keselamatan dapat lebih ditingkatkan, baik oleh pengelola jalur pendakian maupun para pendaki, demi menikmati keindahan Gunung Muria secara aman dan bertanggung jawab.***
