Menurutnya, caping kalo bukan sekadar penutup kepala tradisional, tetapi memiliki filosofi tentang ketelitian, kesabaran, dan keharmonisan yang menjadi bagian dari identitas budaya Kudus.
“Caping kalo ini menjadi simbol budaya masyarakat Kudus yang harus terus kita uri-uri bersama. Harapannya, pada puncak Hari Jadi Kudus nanti bisa tercipta rekor MURI dengan keterlibatan masyarakat yang lebih luas memakai caping kalo sebagai kebanggaan budaya daerah,” ujarnya.
Bupati menambahkan, Pemerintah Kabupaten Kudus terus mendorong pelestarian budaya lokal melalui berbagai kegiatan seni dan budaya yang melibatkan generasi muda maupun masyarakat umum.
Menurutnya, keterlibatan seluruh elemen masyarakat penting agar budaya daerah tetap lestari dan berkembang mengikuti zaman.
“Budaya lokal harus terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda. Tari Lajur Caping Kalo ini menjadi bukti bahwa budaya Kudus mampu berkembang dan membanggakan,” tambah Sam’ani.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Nojorono Tobacco International Stefanus JJ Batihalim menyampaikan dukungan penuh terhadap pelestarian budaya lokal melalui Festival Tari Lajur Caping Kalo.
Pihaknya berharap kegiatan tersebut dapat menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan pemecahan rekor MURI pada Hari Jadi Kudus mendatang sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.
“Kami berharap Festival Tari Lajur Caping Kalo dapat terus berkembang dan menjadi ruang bagi generasi muda untuk mencintai serta melestarikan budaya daerahnya,” ungkap Stefanus JJ Batihalim.
