Di 50 menit pertama, peserta akan mengikuti tes psikologi. Hasil tes ini pun akan langsung dikumpulkan menjadi satu dan disegel.
Dilanjut dengan tes pengetahuan umum dan khusus selama 100 menit, semua hasil pun akan langsung dikumpulkan menjadi satu dan disegel.
Kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua, proses tes pun sama dengan sesi pertama.
“Kita inginnya semua transparan, tidak ada yang ditutup-tutupi. Sebelumnya kita juga sama waktu mengadakan pendaftaran mahasiswa baru, semuanya transparan,” jelasnya.
Selesai proses pemindaian, hasil akan langsung diketahui saat itu juga. Peserta yang ingin mengetahui hasilnya bisa melihatnya di www.ppd.polines.ac.id. Selambat-lambatnya, semua proses selesai pukul 15.00 WIB.
Sementara itu, Kepala Desa Ngembalrejo, Moh Zakaria memang sengaja memilih metode tes LJK. Alasannya, dengan LJK, jawaban para peserta bisa dibuktikan. Artinya ada bukti fisik yang bisa diperlihatkan terkait hasil yang didapatkan. Sehingga tidak ada lagi prasangka kurang baik nantinya.
Kemudian, menanggapi transparansi penilaian, pihaknya tidak sangat setuju dengan hal tersebut. Sebab dengan begitu, semuanya bisa menyaksikan bagaimana proses penilaian berlangsung.
“Sekarang butuhnya kan transparan, terbuka untuk umum, khalayak ramai. Tokoh masyarakat bisa menyaksikan. Tidak ada kongkalikong sama sekali. Tidak ada titip-titipan dan sebagainya,” tegasnya.
Dengan adanya proses penilaian terbuka ini, pihaknya berharap adannya perangkat desa yang kompeten nantinya. Bisa membawa Desa Ngembalrejo maju dan sejahtera.***
