Hari Tani Nasional, Bupati Kudus Ungkap Peran Besar Petani Menjaga Pangan dan Pupuk Masih Jadi Tantangan

Gambar ilustrasi petani sedang menanam padi di sawah. (Foto: Ilustrasi)

Ketika alokasi pupuk subsidi telah habis, petani harus mencari alternatif dengan membeli pupuk nonsubsidi. Kondisi ini secara langsung menambah beban biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalankan usaha tani.

“Karena jatah pupuk subsidi tidak mencukupi, warga Dukuh Karangturi juga sudah mengusulkan kepada dinas agar mendapat tambahan alokasi,” kata Subroto.

PPL Desa Setrokalangan Noor Hudha Ahmada menjelaskan, kebutuhan pupuk yang dirasakan petani memang berbeda dengan kuota subsidi yang ditetapkan pemerintah.

Bacaan Lainnya

Untuk tanaman cabai, kuota subsidi saat ini sebesar 400 kilogram NPK per hektare per musim tanpa urea. Sementara kebutuhan yang diperkirakan petani mencapai sekitar 1.800 kilogram urea dan 3.600 kilogram NPK per hektare per musim.

“Pupuk subsidi memang tidak dimaksudkan untuk mencukupi seluruh kebutuhan petani. Subsidi itu sifatnya membantu sebagian kebutuhan petani,” terangnya.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa menjaga ketahanan pangan membutuhkan dukungan dari berbagai sisi. Selain ketersediaan lahan dan kemampuan produksi, petani juga membutuhkan akses terhadap sarana produksi dengan harga dan pelayanan yang dapat mendukung keberlangsungan usaha tani.

Biaya benih, pupuk, obat-obatan, tenaga kerja, pengairan hingga kondisi cuaca menjadi sejumlah faktor yang turut menentukan hasil produksi. Belum lagi persoalan harga komoditas ketika hasil panen telah diperoleh.

Momentum Hari Tani Nasional 2026 pun menjadi kesempatan untuk melihat kontribusi petani secara lebih menyeluruh. Apresiasi terhadap petani perlu berjalan bersama dengan dukungan terhadap kebutuhan mereka di lapangan.

Pemerintah daerah juga dihadapkan pada tantangan untuk mendorong pertanian agar tetap produktif sekaligus menarik minat generasi muda. Regenerasi petani menjadi penting agar produksi pangan di Kabupaten Kudus dapat terus berlangsung.

Bagi Kabupaten Kudus, keberadaan petani bukan hanya berkaitan dengan aktivitas ekonomi. Mereka juga menjadi bagian dari upaya daerah memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap tersedia.

Karena itu, sebutan petani sebagai pahlawan pangan tidak hanya menggambarkan hasil panen yang dihasilkan. Di balik pangan yang dikonsumsi masyarakat, terdapat kerja keras, biaya produksi, waktu serta berbagai risiko yang harus dihadapi petani sepanjang proses budidaya hingga panen.***