“Hasilnya NR (Non-Reaktif) semua,” tandasnya.
Sementara itu, Aktivis HIV/AIDS di Kabupaten Kudus, Eni Mardiyanti menambahkan bahwa tren kasus HIV/AID di Kudus tidak terlalu meningkat tajam. Namun, tetap perlu diwaspadai sebab angka kasus masih cukup tinggi.
“Total kasus hingga Oktober 2023 ini ada 134 temuan, dimana 87 temuan diantaranya adalah laki-laki dan 47 temuan lainnya adalah perempuan,” katanya.
Pihaknya pun berharap, dengan adanya kegiatan skrining dini dan penyuluhan yang dilakukan secara masif, bisa memberikan dampak yang baik terhadap penanganan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kudus.
Termasuk, di lingkungan pondok pesantren, yang menurutnya, kepahaman terkait HIV/AIDS belum tersentuh dengan maksimal. Sehingga, dengan kegiatan ini, diharapkan para santri bisa menjadi bagian dari agen pencegahan dan penangangan HIV/AIDS.
“Kita pahamkan agar mereka bisa memberikan edukasi kepada sesamanya dan jangan takut untuk skrining, tidak hanya ngomong tapi juga sudah melakukan skrining HIV/AIDS,” tukasnya. ***
