Dalam perhelatan ini, sejumlah pakar komunikasi dihadirkan sebagai pembicara seperti Prof. Jack Qiu Linchan dari Wee Kim Wee School of Communication and Information, Nanyang Technological University (NTU), Singapura, Staf Ahli Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia, Indri Saptaningrum, dosen Departemen Ilmu Komunikasi UGM, Dr. Dian Arymami, dan Ketua Asosiasi Periklanan Indonesia, Janoe Arijanto.
Jack Qiu Linchan mengatakan, teknologi memberi peluang besar meningkatkan kualitas hidup dan peradaban manusia. Termasuk peran transformatif dalam menumbuhkan kepercayaan publik secara berkelanjutan. “Meski di sisi lain disrupsi teknologi dan perkembangan media digital memberikan tantangan baru yang besar,” jelasnya saat menjadi keynote speaker yang lebih mengedepankan sisi positif teknologi.
Untuk membentuk kepercayaan publik secara berkelanjutan, Indri Saptaningrum menegaskan harus ada kebijakan dan regulasi media yang mendukung dari pemerintah. “Regulasi menjadi jembatan untuk membangun kepercayaan di antara berbagai pemangku kepentingan. Tapi tentunya perlu pemahaman kerangka regulasi untuk mengatasi kompleksitas ini,” katanya.
Sementara itu, Dosen Departemen Ilmu Komunikasi UGM, Dr. Dian Arymami, mengatakan lanskap digital yang terus berkembang membutuhkan budaya digital masyaraat yang baik untuk membangun kepercayaan publik di ruang digital.
“Di tengah ketidakpastian ruang komunikasi yang penuh tantangan, butuh strategi komunikasi transparan dan bertanggungjawab,” imbuh Janoe Arijanto yang disampaikan dalam paparannya.
Forum simposium ini tidak hanya menjadi forum bagi akademisi, peneliti, dan praktisi komunikasi untuk berbagi gagasan dan hasil penelitian mengenai tantangan, kepercayaan di ruang digital, namun juga ruang untuk mencari solusi bagi ekosistem digital berkelanjutan di Indonesia yang lebih baik. ***
