Melalui data peserta, rangkaian acara, program diskusi dan pemutaran film yang telah berlangsung, serta keterlibatan berbagai pihak, festival ini diharapkan dapat menjadi wadah yang berkelanjutan bagi pertumbuhan ekosistem film muda di daerah maupun nasional.
“Tahun lalu, Sineas Kudus tidak ada yang ikut tapi tahun ini ada dua peserta yang ikut, semoga ini menjadi pemantik untuk tahun-tahun ke depannya,” ujarnya.
Sementara itu, dari perspektif penjurian, Cornel Innos sebagai perwakilan dewan juri Festival Film Anak Bangsa 2026 menjelaskan bahwa proses kurasi tidak hanya melihat aspek teknis.
“Tetapi juga kekuatan gagasan, cara bertutur, relevansi tema, serta kemampuan film dalam menghadirkan perspektif yang jujur dan segar,” tuturnya.
Tema “Scene The Unseen” menjadi pijakan penting dalam membaca karya-karya peserta, terutama dalam melihat bagaimana film mampu mengangkat pengalaman yang dekat dengan kehidupan, tetapi sering luput dari perhatian.
Dukungan terhadap penyelenggaraan FFAB 2026 juga datang dari Richardus Frans Hendarto, MSF, perwakilan Balai Budaya Rejosari.
Kehadiran Balai Budaya Rejosari sebagai ruang kegiatan menunjukkan pentingnya kolaborasi antara komunitas, lembaga budaya, dan pelaku kreatif dalam membangun ekosistem seni yang terbuka bagi generasi muda.
Dukungan ini diharapkan dapat memperkuat peran Balai Budaya Rejosari sebagai ruang perjumpaan, pembelajaran, dan pengembangan kreativitas masyarakat.
Dewan juri Festival Film Anak Bangsa 2026 terdiri dari sosok-sosok profesional di bidang perfilman, yaitu Faradina Mufti, aktris nasional; Wahyu Agung Prasetyo, Director Ravacana Films; serta Cornel Innos, Director GsT, sebagai perwakilan dewan juri.
Kehadiran festival ini diharapkan dapat membuka peluang bagi generasi muda, komunitas kreatif, pelajar, mahasiswa, serta pembuat film independen untuk terus berkarya dan mengekspresikan gagasan mereka melalui film.
Lebih dari sekadar festival, FFAB 2026 menjadi ruang untuk melihat kembali cerita-cerita kecil yang selama ini kerap terlewat, tetapi memiliki kekuatan untuk menghubungkan banyak perspektif.
Festival Film Anak Bangsa percaya bahwa cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat memiliki daya untuk menyadarkan, mempertemukan, dan membangun percakapan.
Dengan mengangkat yang sering terlewat menjadi cerita, sinema dapat terasa lebih dekat, relevan, dan dirayakan bersama. ***
