“Kita sengkuyung bersama untuk dimunculkan itu (10 indikator Kabupaten/Kota Sehat), mulai dari tingkat desa, kecamatan, sampai dengan kabupaten. Karena tidak mungkin membentuk kabupaten sehat bilamana desanya belum,” terangnya.
Andiri melanjutkan, Kudus telah mempersiapkan menuju Kabupaten/Kota Sehat sejak 2019 lalu. Lantaran pandemi covid-19, persiapan yang dilakukan sempat vakum selama 2 tahun. Kemudian, persiapan itu dilanjutkan kembali pada akhir 2021 dan dimatangkan lebih lanjut pada tahun 2022 ini.
“Kita nanti pada 2023 mengajukan assesmen dan semoga bisa mewujudkan Kudus sebagai Kabupaten Sehat,” tandasnya.
Sementara itu, Plh Bupati Kudus Samani memberikan dukungan atas apa yang telah dipersiapkan agar tercipta Kudus sebagi Kabupaten Sehat. Dirinya berharap setiap desa ikut berbondong-bondong menciptakan lingkungan sehat dan menjaga kesehatan.
“Alhamdulillah memang sudah mulai baik, setiap desa sudah mulai ada peningkatan. Ada TPS, jalan sudah dibangun, saluran juga sudah dibenahi. Lalu, ada juga lomba desa, yang ini juga akan membantu Kudus menjadi Kabupaten Sehat,” tuturnya.
Dirinya juga mengapresiasi DKK Kudus karena berhasil menekan angka stunting hingga tidak melampaui batas nasional. Dimana, angka stunting di Kudus yakni 4,7 persen. Angka tersebut jauh dibawah angka nasional yakni 17 persen. ***
