Kemudian, apabila diperlukan intervensi terhadap para pekerja yang hamil, pihak PT Djarum akan memberikan multivitamin atau makanan tambahan yang diperlukan.
Lebih lanjut, pihaknya menjelaskan bahwa program ini sudah ada sebelum pandemi covid-19 merebak di Kudus. Total ada sekitar 500 orang karyawan PT Djarum yang masuk dalam pengawasan kesehatan oleh tim. Di mana, 300 diantaranya diketahui merupakan ibu hamil yang masih aktif bekerja.
Untuk tahun ini, kegiatan ini pun sudah dimulai sekitar 5 hari lalu. Sekitar 4 pabrik sigaret kretek tangan (SKT) milik PT Djarum sudah didatangi tim kesehatan.
“Kegiatan ini sudah kita mulai sebelum covid. Karena ada pandemi, jadi kita stop. Setelah covid ini mereda, kita aktifkan lagi. Karena tidak mungkin periode pertumbuhan anak kita abaikan. Jadi memang harus kita mulai lagi (kegiatan Gemas),” ungkap Purwono.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mencatat ada 2.463 anak di bawah usia lima tahun dinyatakan stunting. Pihak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Kabupaten Kudus ikut membantu dalam upaya memperbaiki gizi anak-anak yang dikatakan stunting tersebut.
Pun demikian dengan Pemkab beserta Corporate Social Responsibility (CSR) dari berbagai pihak, juga ikut membantu dalam upaya menekan angka stunting di Kudus. Upaya tersebut berupa pemberian dan pemantauan gizi yang cukup bagi anak-anak stunting. ***
