Dengan adanya pembinaan terhadap peningkatan kapasitas SDM, lanjut Esti, diharapkan produk ekraf di Kudus bisa bersaing di kancah nasional bahkan internasional. Salah satu yang berpotensi tinggi yakni kopi muria.
Sementara itu, salah satu pelaku ekraf di Kabupaten Kudus, Edi Purwanto yang terkenal dengan kreasi boneka lilit, menyampaikan bahwa dirinya telah bergelut dengan ekraf boneka lilit ejak 2016 lalu.
Boneka lilit saat ini menjadi potensi yang khas di Desa Wisata Jurang, Kecamatan Gebog, Kudus yang telah menembus hingga ke Jepang. Edi bahkan mengungkapkan bahwa kreasinya sudah mondar-mandir mengikuti pameran berskala nasional.
“Dulu booming-nya pas Borobudur art, kami mewakili Disbudpar Kudus sebagai karya original selain batik dan jenang dari Kabupaten Kudus pada waktu itu,” ujarnya.
Boneka lilit buatan Edi sendiri menggunakan bahan limbah kertas papir rokok atau tipping, yang dililit dan dikreasikan menjadi bentuk boneka. Bahan tersebut mudah ditemukan, mengingat Kudus memiliki banyak pabrik rokok.
“Terciptanya boneka lilit, karena dulu saya membuat pemintal kertas menjadi benang. Jadi idenya memang untuk mengkreasikan limbah, agar menjadi berkah dan bernilai jual tinggi,” tandasnya. (J05/A01)
