Dinamika Terbang Papat di Kudus: Mungkinkah Jadi Warisan Dunia?

Diskusi Tapangeli menyoal kesenian tradisional Terbang Papat sebagai warisan budaya tak benda di Sekertariat Tapangeli, Piji, Kabupaten Kudus. (ISTIMEWA)

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Terbang Papat Kudus, Kholid Syeif mengapresiasi gagasan yang ditawarkan oleh Komunitas Kampung Budaya Piji Wetan. Dia pun mendukung penuh harapan melestarikan terbang papat sebagai warisan budaya tak benda asli Kudus yang diakui dunia.

Kendati begitu, Kholid mengingatkan bahwa perlu ada penelitian dan pendalaman terkait literasi dan kesejarahan terbang papat supaya dapat terdengar di kancah internasional.

“Dengan dasar yang kuat, upaya pelestarian terbang papat dapat berjalan seperti yang diharapkan. Yakni supaya dikenal masyarakat luas dan tetap lestari, memang harus diumumkan, dimediakan sebagai seni religi milik Kudus,” tandasnya.

Bacaan Lainnya

Sejauh ini, sudah ada 130 grup terbang papat yang ada di Kabupaten Kudus. Pihaknya juga mengatakan bahwa rekor muri terbang papat yang diraih Kudus pada 2012 silam, berkat konsistensi dan kesungguhan para pelopor.

“Kami pernah mengadakan nabuh terbang papat selama 3 hari 2 malam kurang lebih 73 jam pada 15-17 Juli 2022 dan tercatat rekor muri sebagai Mahakarya Kebudayaan Internasional,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Kholid berharap kesenian terbang papat ini tetap dilestarikan, terutama oleh para generasi muda melalui program edukasi, komunikasi, dan penabuhan terbang papat di event-event lokal yang ada di Kabupaten Kudus.

“Terbang papat ini punya tagline ‘Menebar sholawat menuai syafaat’, jadi saya harap ini tetap dilestarikan kepada anak cucu kita, bagaimana terbang papat yang asli itu, bagaimana strategi kota menyuarakan terbang papat supaya dikenal luas dan diakui baik tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya. ***