“Yang namanya kader itu harus benar-benar pernah memperjuangkan partainya, tidak bahasa saya itu ‘eksklusif’. Siapa saja bisa dikasih ‘baju’ Gerindra, tapi bagaimana bentuk komitmennya, beliau-beliau yang daftar dari luar kader, terus menjadi eksekutif,” kata Sandung.
“Contoh di DKI (Jakarta), beliau Pak Prabowo memberikan rekomendasi pada Pak Anies, tapi pada akhirnya Pak Anies balik arah. Jadi DPD dan DPP harus benar-benar selektif memilih eksekutif. Saya sebagai kader partai tidak ada alasan untuk mundur,” tegas Sandung.
Di sisi lain, Ketua DPC Partai Gerindra Kudus, Sulistyo Utomo mengaku baru pertama kali mengetahui bahwa Bellinda memiliki KTA Partai Gerindra hari ini.
Dirinya cukup kaget, karena dari DPC sendiri belum pernah mengeluarkan KTA untuk Bellinda.
Tapi menurut Sulis, siapapun warga negara Indonesia bisa mendapatkan KTA Partai Gerindra, asal memenuhi syarat. Bahkan pembuatan KTA bisa secara online, tidak harus bertandatangan Ketua DPC maupun Sekretaris DPC setempat.
“Tapi kalau di DPC sendiri belum (mengeluarkan KTA untuk Bellinda). Tetapi kalau ada permohonan tertulis, akan kami buatkan,” kata Sulis.
“Tidak ada larangan siapapun di Gerindra, asalkan memenuhi syarat, memahami AD/ART partai, proses pembuatan KTA tidak harus lewat DPC,” ujar Sulis melanjutkan.
Lebih lanjut, dirinya mengungkapkan bahwa bukan hanya Sandung dan Bellinda anggota Partai Gerindra yang mencalonkan diri dalam bursa cabup-cawabup Kudus tahun ini, namun ada satu lagi kader lagi yang menjadi anggota partai.
Siapa orang yang dimaksud, Sulis memilih untuk merahasiakannya.
“Totalnya ada 3 kader, 2 orang kader baru,” ucapnya dengan tersenyum lebar.***
