Dalam paparannya, Kepala Desa Cranggang, Imam Zuhri, mengatakan bahwa desanya sangat kental dengan tradisi budaya yang masih dipegang teguh. Sedekah bumi atau apitan setiap tahunnya masih dilakukan sebagai upaya pelestarian kearifan lokal. Hal tersebut merupakan wujud syukur dan doa agar hasil tani di desanya selalu meningkat dan berlimpah.
“Menggambarkan desa yang mayoritas warganya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Sedekah bumi dengan partisipasi warga masyarakat sangat kuat sekali, cerminan gotong royong warga kami,” katanya.
Dengan mayoritas warga sebagai petani, Desa Cranggang mengangkat produk unggulan berupa hasil bumi seperti kencur, laos dan tebu. Kencur dan laos tumbuh subur di desanya sehingga hasil panen dapat dijual dengan harga dan kualitas bersaing. Sedangkan tebu diolah menjadi gula tumbu yang pemasarannya bahkan tembus sampai ke luar provinsi.
“Produk unggulan dari pertanian, empon-empon seperti kencur dan laos. Disini terkenal produk Gula tumbu dengan kualitas yang menembus pasar tidak hanya di Jawa Tengah namun sampai Jawa Barat,” jelasnya.
Pemerintah Desa Cranggang juga terus menggalakkan upaya pencegahan dan penurunan angka stunting. Imam Zuhri melaporkan bahwa di desanya terjadi penurunan angka stunting dalam dua tahun terakhir. Tercatat dari 132 balita terdapat 20 kasus stunting pada 2021, sedangkan tahun 2022 dari 143 balita terdapat 18 kasus stunting.
“Kita harapkan dapat terus menurun, pada tahun ini. Semua berkat pengabdian kader yang terus mendampingi anak stunting dengan pemberian PMT rutin selama 90 hari,” jelasnya.***
